Monday, December 27, 2010
Menaklukkan Carstensz, Luar Biasa!
KOMPAS.com — Tak banyak orang yang beruntung bisa menaklukkan Puncak Carstensz Pyramid di Pegunungan Jayawijaya, Papua, salah satu puncak tertinggi di dunia yang menjualang sampai 4.884 meter. Wartawan Kompas, Harry Susilo (Ilo), adalah salah satu yang berkesan dengan hal itu karena menyertai perjalanan Tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia dari Wanadri.
"Menurut saya, semangat tim luar biasa. Sempat beberapa kali cuaca buruk, tetapi tim bisa dua kali mencapai puncak. Luar biasa," ujar Ilo.Dua tim ikut dalam ekspedisi tersebut. Tim Alfa mencapai puncak pada 18 April 2010 dan Tim Bravo mencapai puncak tanggal 26 April 2010.
Tidak mudah untuk bisa mencapai puncak. Ilo menceritakan, kendala fisik dan lingkungan harus dihadapi. Selama sepuluh hari membangun tenda di Pegunungan Jayawijaya, beberapa kali tim ekspedisi didera hujan es. Alhasil, upaya untuk menaklukkan puncak beberapa kali batal. Namun, berkat kesabaran dan perhitungan matang, toh, mereka bisa melakukannya.
Proses aklimatisasi atau penyesuaian tubuh terhadap perubahan tekanan dan suhu di ketinggian juga bukan hal sepele. Setiap anggota tim rupanya memiliki daya tahan berbeda sehingga harus menentukan sendiri batas kemampuannya. Bolak-balik naik turun kudu dilakoni demi melatih tubuh sebelum menuju puncak.
"Tim Alfa saja perlu sepuluh hari proses aklimatisasi. Berangkat tanggal 8, tetapi baru sampai puncak tanggal 18," kata Ilo.
Tim Bravo menyusul delapan hari kemudian seusai perayaan Hari Bumi yang monumental di lidah es Jayawijaya. Menurut Ilo, konon luas lapisan es di sana menyusut seiring waktu. Diduga karena pemanasan global.
Buang hajat
Pengalaman lain yang tak terlupakan, menurut Ilo, adalah bagaimana bertahan sepuluh hari di ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut itu. Tidur sudah ada tenda berikut selimut dan sleeping bag hangat. Makan pun tersedia dengan bekal makanan yang cukup. Namun, bagaimana dengan urusan pribadi macam buang hajat?
"Kami menyiasatinya, kalau buang air kecil, cari tempat yang tersembunyi, seperti di dekat tebing bebatuan. Kalau buang air besar, kami harus gali tanah dan menguruknya kembali agar tidak bau. Secara alami kan organik, jadi enggak apa-apa. Tapi, harus cari tempat yang jauh dari aliran air," kata Ilo.
Selama di atas, Ilo mengaku tak terlalu terkendala dengan kebiasaan baru tersebut yang harus dilakoni. Bahkan, dia hitung setidaknya empat kali melakukan hajat besar di sekitar Lembah Danau-Danau yang menjadi lokasi menginap.
Tisu basah pun menjadi andalan untuk bebersih dan sampahnya dikumpulkan bersama sampah lainnya. Sebagian dibawa turun, sebagian lagi dimusnahkan.
Kebutuhan air melimpah di sekitar Puncak Carstensz karena di sana banyak danau yang berasal dari lelehan es gletser. Ilo mengaku penasaran dengan air gletser dan mencoba mandi sekali meski harus menahan dingin yang menusuk tulang. Namun, kapan lagi bisa mandi di ketinggian 4.700 meter, bukan?
Buat Ilo, Cartstensz merupakan puncak tertinggi yang pernah dijangkaunya. Sebelumnya dia memang hobi memanjat gunung dan paling tinggi baru Rinjani yang tingginya 3.726 meter di atas permukaan laut.
Gunung-gunung besar di Jawa sebagian besar pun sudah ditaklukkan. Kini dia berharap bisa kembali bergabung dengan Tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia untuk menaklukkan puncak kedua, Kilimanjaro, Afrika. Read More..
Awal Misi dan Ajang Latihan
CARSTENSZ PYRAMID, KOMPAS.com — Selain menjadi awal misi Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia, pendakian ke puncak Carstensz Pyramid atau Ndugu-Ndugu di Jayawijaya, Papua, sekaligus merupakan ajang latihan bagi tim sebelum menempuh perjalanan ke enam puncak tertinggi lainnya. Medan yang bervariasi dan memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi membuat Carstensz menjadi lokasi latihan yang tepat.
Pada Sabtu (24/4/2010), sebagian anggota tim Alfa berlatih dengan kembali mendaki puncak Ndugu-Ndugu di ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl). Pendakian kali ini melibatkan 10 orang, termasuk tim Bravo.Tim Alfa yang ke Ndugu-Ndugu untuk kedua kalinya antara lain Ardeshir Yaftebbi, Iwan Irawan, dan Nurhuda. Adapun tiga anggota tim lainnya, Martin Rimbawan, Fajri Al Luthfi, dan Gina Afriani, berlatih di puncak Carstensz timur yang berketinggian sekitar 4.400 mdpl.
Koordinator Staf Ahli Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia Muhamad Gunawan, kemarin, mengatakan, latihan ke dua puncak itu ditujukan untuk membiasakan tim dengan kondisi medan ekstrem, seperti tebing dan es. ”Dengan begitu, mereka tidak akan terlalu kaget ketika akan mendaki puncak tertinggi lainnya,” kata Gunawan, yang biasa disapa Ogun, di Lembah Danau-Danau, Jayawijaya. Lembah Danau-Danau adalah kamp terakhir tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia.
Pada pencapaian Tim Wanadri yang kedua kali ke puncak Ndugu-Ndugu, tim berangkat pukul 04.00 WIT dan tiba di puncak pukul 11.30 WIT. Perjalanan sempat terhambat cuaca buruk, yaitu kabut disertai hujan es.
Sebagian anggota tim yang mendaki puncak ini menggigil kedinginan sehingga perjalanan agak melambat. Tim baru mencapai Lembah Danau-Danau sekitar pukul 18.30 dengan kondisi fisik yang terkuras.
Pendakian ke Ndugu-Ndugu sebagian besar melalui medan tebing bebatuan dengan kemiringan 75-90 derajat. Pada ketinggian 80-100 meter menuju puncak, tim melewati jurang selebar 15 meter yang dinamakan Kandang Babi dengan menggunakan lintasan tali (tyrollean).
Pada Rabu lalu, tim inti ekspedisi juga berlatih menghadapi suhu dingin dan rendahnya oksigen dengan menginap di atas medan es yang berada di kawasan es Nggapulu dengan ketinggian sekitar 4.700 mdpl.
Latihan tidur dengan tenda di atas es ini dimaksudkan agar tim terbiasa dengan medan dan suhu yang ekstrem. Kondisi ini diperkirakan akan dihadapi di puncak gunung tertinggi lainnya, seperti McKinley (Alaska, Amerika Serikat), Aconcagua (Argentina), Vinson Massif (Antartika), dan Everest (Nepal/China). (ILO) Read More..
Peringatan Hari Bumi di Es Jayawijaya
LEMBAH DANAU-DANAU, KOMPAS.com — Tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia dari Wanadri akhirnya mencapai Puncak Nggapulu di Pegunungan Jayawijaya, Kamis (22/4/2010) sekitar pukul 10.30. Di puncak berlapis es berketinggian 4.700 meter di atas permukaan laut itu mereka merayakan Hari Bumi.
Perayaan tersebut istimewa karena Puncak Nggapulu adalah satu-satunya kawasan di Indonesia yang dilapisi es. Dengan membawa bendera Merah Putih, tim ekspedisi mengabadikan momentum istimewa yang telah dicapai dan membawa pesan dampak pemanasan global. Upacara peringatan Hari Bumi dilaksanakan di sekitar batas es (lidah es) kawasan Puncak Nggapulu. Lokasi itu dipilih untuk menunjukkan menyusutnya batas es di kawasan itu setiap tahun akibat pemanasan global.
"Dengan memperlihatkan dampak langsung pemanasan global, kami harapkan masyarakat Indonesia, termasuk para pemimpin, mau berbuat sesuatu untuk Bumi ini," kata Ketua Harian Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia Yoppie Rikson kepada wartawan Kompas, Harry Susilo, yang ikut dalam tim ekspedisi itu di Tim Bravo di Lembah Danau-Danau, Jayawijaya, Papua, sehari sebelumnya.
Saat ini, bentangan es di Puncak Nggapulu hanya sekitar 1,5 kilometer dari puncak. Padahal, menurut pengakuan para pendaki dari Wanadri yang mengunjungi kawasan itu tahun 2004, bentangan es saat itu masih berjarak 2 kilometer dari puncak. Read More..
Puncak Nggapulu
NGGAPULU, KOMPAS.com — Tim Bravo Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia dari Wanadri, Senin (19/4/2010), akhirnya tiba di Puncak Nggapulu atau Puncak Soekarno di ketinggian 4.700 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Wartawan Kompas, Harry Susilo, yang tergabung dalam tim Ekspedisi 7 Puncak Dunia itu melaporkan, Puncak Nggapulu masih berselimutkan es,meskipun luas hamparannya sudah berkurang dibandingkan pada tahun 2004.
Pendakian ke daerah Puncak Nggapulu di kawasan Pegunungan Jayawijaya ini merupakan ajang pengenalan medan dan aklimatisasi bagi tim sebelum menuju Puncak Carstensz Pyramide atau Ndugu-Ndugu yang berada di ketinggian 4.884 mdpl pada Sabtu mendatang.
Sebelumnya, tim Alpha sudah lebih dulu mencapainya pada Minggu (18/4/2010) Read More..
Es di Puncak Nggapulu Menyusut
NGGAPULU, KOMPAS.com — Bentangan es di puncak Nggapulu atau Puncak Soekarno di kawasan Pegunungan Jayawijaya, Papua, menyusut. Hal itu diketahui ketika tim Wanadri mendaki ke puncak dengan ketinggian 4.700 meter di atas permukaan laut tersebut, Senin (19/4/2010).
Wartawan Kompas, Harry Susilo, yang bergabung dengan tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia melaporkan, ketika tim mencapai lidah es di kawasan puncak Nggapulu, beberapa anggota tim tercengang. Bentangan es yang ada kini hanya sekitar 1,5 kilometer dari puncak. "Padahal, tahun 2004 lalu setidaknya 2 kilometer dari puncak itu masih ditutupi es," kata salah seorang anggota Wanadri, Iwan Irawan, seraya menunjukkan lokasi terakhir itu.
Tidak diketahui secara pasti penyebab menyusutnya bentangan es itu. Namun, sebagian besar pencinta alam menduga hal itu disebabkan pemanasan global. Di bawah lidah es terdapat sungai gletser kecil yang mengalir cukup deras.
Es yang menjulur menutupi sebagian tebing di kawasan puncak itu hanya bisa dilalui dengan alat tertentu, seperti crampon (alat bergerigi yang dipasang pada sepatu) dan kapak es. Para anggota tim kemudian mencoba menyusuri jalur es tersebut secara berkelompok.
Menuju puncak Nggapulu, tim Wanadri yang sebagian besar adalah tim Bravo harus melalui medan menanjak yang cukup terjal. Ketika sampai di lidah es, tim diguyur hujan yang disertai kabut tebal. Perjalanan yang ditempuh dari Lembah Danau-Danau itu memakan waktu sekitar 4,5 jam. Read More..
Tim Bravo Berlatih ke Puncak Nggapulu
NGGAPULU, KOMPAS.com — Setelah tiba di basecamp Lembah Danau-Danau pada hari Minggu lalu, Tim Bravo Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia dari Wanadri melanjutkan kegiatan dengan berlatih ke Puncak Nggapulu atau Puncak Soekarno, Papua, Senin (19/4/2010).
Wartawan Kompas, Harry Susilo, yang bergabung dalam tim Bravo melaporkan, Puncak Nggapulu berada pada ketinggian 4.700 meter di atas permukaan laut (mdpl). Pendakian ke Puncak Nggapulu di kawasan Pegunungan Jayawijaya ini, katanya, ditujukan sebagai pengenalan medan dan aklimatisasi.Pendakian tersebut merupakan latihan bagi tim Bravo yang berencana mendaki ke Puncak Carstensz Pyramid atau Ndugu-Ndugu pada ketinggian 4.884 mdpl, menyusul keberhasilan tim Alpha atau tim inti ekspedisi yang telah mencapai Carstenz pada hari Minggu lalu.
Koordinator Staf Ahli Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia, Muhamad Gunawan, mengatakan, selain untuk latihan ke Carstensz, pendakian ini juga untuk membiasakan diri dengan medan es. Rencananya, pada 22 April nanti, tim Bravo bersama dengan tim Alpha akan memperingati Hari Bumi di Puncak Nggapulu.
Medan menuju Puncak Nggapulu didominasi tanjakan terjal berbatu dengan tebing di samping kiri dan kanan jalan. Kemiringan tanjakan mencapai 50 derajat sehingga tim mesti berhati-hati. Rendahnya kadar oksigen dan dinginnya udara membuat jalan anggota tim juga melambat.
Dari Lembah Danau-Danau hingga ke kawasan Puncak Nggapulu, tim membutuhkan waktu sekitar 4,5 jam. Ketika sampai di lidah es atau pada ketinggian sekitar 4.550 mdpl, hujan dan kabut mewarnai perjalanan tim.
Tim Bravo, termasuk di antaranya Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Erry Riyana Hardjapamekas dan aktivis lingkungan Iwan Abdulrachman, akhirnya tiba di Lembah Danau-Danau sekitar pukul 16.30 WIT.
Tim Wanadri Berhasil Capai Carstensz
LEMBAH DANAU-DANAU, KOMPAS.com — Tim inti Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia dari Wanadri berhasil mencapai puncak Carstensz Pyramid, Papua, atau Ndugu-Ndugu, pada Minggu (18/4/2010) sekitar pukul 09.30 waktu Indonesia timur atau 07.30 WIB. Tim menempuh perjalanan selama tujuh jam dari basecamp terakhir Lembah Danau-Danau tanpa ada hambatan cuaca.
Tim yang terdiri atas Ardeshir Yaftebbi, Iwan Irawan, Martin Rimbawan, Fajri Al Luthfi, Nurhuda, dan Gina Afriani berangkat dari Lembah Danau-Danau yang berupa tanah lapang di tepi danau dengan ketinggian 4.290 meter di atas permukaan laut sekitar pukul 02.30. Tim inti pendakian yang beranggotakan enam orang ini biasa disebut tim Alpha.
Kompas berhasil menemui tim setelah tiba di Lembah Danau-Danau yang berada di ketinggian 4.290 meter di atas permukaan laut (mdpl). Ketika tiba, pendaki senior Wanadri, Jukardi Adriana atau Bongkeng, langsung memeluk mereka satu per satu.
Menurut salah seorang anggota tim, Iwan Irawan, perjalanan tim menuju puncak diwarnai cuaca cerah. Namun, begitu akan beranjak turun dari puncak, tim didera hujan salju disertai kabut. "Karena jalur dari puncak sudah terbentang tali, tim tetap bisa bergerak turun tanpa ada masalah. Padahal, jarak pandang hanya 3 meter," kata Iwan, yang sudah sampai kembali ke Lembah Danau-Danau pukul 14.00 WIT.
Dalam perjalanan turun, salah satu anggota tim, Gina, sempat didera kelelahan sehingga baru dapat menyusul rekan-rekannya sampai di basecamp sekitar pukul 16.30 WIT. Read More..
Tim Bergerak ke Lembah Danau-Danau
MIMIKA, KOMPAS.com- Tim Bravo Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia, Sabtu (17/4/2010) pagi ini, memulai pendakian ke puncak Carstensz dengan bergerak ke Lembah Danau-Danau. . Mereka menyusul tim Alpha yang sudah lebih dulu berada di lembah yang dijadikan basecamp tersebut.
Dalam pendakian ini, mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Erry Riyana Hardjapamekas turut bergabung bersama tim Bravo. Selain itu, juga ada pendaki senior sekaligus aktivis lingkungan Iwan Abdulrachman.Wartawan Kompas Harry Susilo yang bergabung juga dalam tim ini melaporkan, untuk menuju ke Lembah Danau-Danau, tim akan melalui beberapa variasi jalur dan lokasi sehingga diperkirakan memakan waktu sekitar 4-5 jam.
Dari Tembagapura, tim menggunakan kendaraan darat kemudian disambung dengan kereta gantung tambang milik Freeport yang melintasi jurang untuk menuju Bali Dump, yang berupa padang kerikil dan pasir.
Setelah itu, perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki menuju Zebra Wall, tebing berwarna hitam-putih setinggi 15 meter. Kemudian, tim juga akan melewati jalan menyerupai lorong yang dikenal dengan pintu angin.
Dari pintu angin, perjalanan akan diteruskan ke basecamp Lembah Danau-Danau yang berada di ketinggian sekitar 4.200 meter di atas permukaan laut. "Rencananya, tim Bravo akan mencapai puncak Carstensz pada 22 April," kata Ketua Harian Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia Yoppie Rikson. Read More..
Menembus Pengamanan Ketat ke Tembagapura
KOMPAS.com — Jika bertolak dari Timika menuju Tembagapura, Papua, dengan menggunakan bus, jangan heran jika melihat beberapa lelaki berseragam hitam, bersenjata laras panjang dengan disertai rompi antipeluru duduk di antara penumpang.
Dilihat sepintas, penampilan mereka mirip dengan Detasemen Khusus 88 yang saat ini menjadi pasukan yang populer di tengah masyarakat. Mereka memang bukan anggota Densus, melainkan anggota Satuan Tugas Amole, yang terdiri dari anggota Brimob Polda Papua dan TNI.
Satuan ini jumlahnya sekitar 800 orang. Tugasnya, menjamin rasa aman penduduk sipil yang bepergian menggunakan kendaraan darat dari Timika menuju Tembagapura atau sebaliknya. Satuan ini dibentuk menyusul terjadinya serangkaian penembakan terhadap karyawan PT Freeport Indonesia pada pertengahan 2009 lalu.
Untuk menjamin rasa aman itulah, setiap bus dikawal tiga anggota Satgas bersenjata lengkap. Mereka biasa duduk di sebelah sopir, bagian depan, dan bagian belakang bus.
Ketika tim Bravo Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia hendak ke Tembagapura, Jumat (16/4/2010) pagi, pasukan ini pun mengawal ketat. Selain petugas dalam bus, terdapat tiga mobil lainnya yang berisi tiga sampai empat petugas mengawal perjalanan tim.
Wartawan Kompas Harry Susilo yang tergabung dalam tim yang akan mendaki ke Cartenz Pyramid itu melaporkan untuk Kompas.com, selama di dalam bus, anggota Satgas itu senantiasa bersiaga. Sambil mengacungkan senjata ke luar jendela, pandangan mereka menyapu setiap sudut di sepanjang jalan berkerikil dengan jarak sekitar 70 kilometer itu.
"Para penembak itu biasanya berada tidak jauh dari tepi jalan," kata salah satu anggota Satgas Amole mengenai kesiagaan itu. Yang dimaksud dengan para penembak itu adalah sekelompok orang yang sudah beberapa kali melancarkan penembakan terhadap kendaraan yang mengangkut karyawan PT Freeport Indonesia.
Selain dikawal, bus berisi penumpang yang hendak melintasi jalan di dalam kawasan Freeport biasanya juga konvoi untuk meminimalkan adanya kejahatan di jalan. "Setidaknya ada 14 bus yang konvoi untuk sekali jalan," ucap Narniur Erelak, Corporate Communications Staff PT Freeport Indonesia, saat menerima tim.
Pengawalan ketat dan antisipasi itu memang bukan tanpa alasan. Apalagi, serangkaian penembakan yang terjadi di jalur Freeport itu telah menyebabkan tiga orang tewas dan beberapa lainnya luka. Dengan penjagaan ketat, kejadian itu diharapkan tidak lagi terulang. Read More..
Tim Bravo Tiba di Tembagapura
MIMIKA, KOMPAS.com — Tim Bravo Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia dari Wanadri tiba di Tembagapura, Mimika, Papua, Jumat (16/4/2010) siang tadi. Kali ini, mantan Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas mulai bergabung dengan tim yang akan mulai mendaki menuju Carstensz Pyramid pada Sabtu besok.Wartawan Kompas Harry Susilo yang bergabung dalam tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia ini melaporkan, tim datang di Tembagapura yang berjarak sekitar 70 kilometer dari Timika dengan menggunakan bus yang dikawal ketat Satgas Amole. Pengawalan dilakukan menyusul kejadian penembakan oleh orang tak dikenal di sekitar kawasan tersebut akhir-akhir ini. Satgas Amole merupakan petugas pengamanan dari Brimob Polda Papua dan TNI yang mengawal setiap kendaraan dan bus, baik dari Tembagapura ke Timika maupun sebaliknya.
Rencananya, Sabtu besok tim Bravo akan bergerak dari Tembagapura menuju Bali Dump di ketinggian sekitar 3.900 meter di atas permukaan laut (mdpl) sebelum menginap di basecamp Lembah Danau-Danau.
Sebelum berangkat ke basecamp, tim akan ditemui manajemen PT Freeport Indonesia, termasuk Presiden Direktur Armando Mahler, pada Jumat malam. "Selain itu, juga akan ada dialog soal konservasi dari berbagai tinjauan, dan ditutup dengan pertunjukan musik dari Iwan Abdulrachman," kata Ketua Harian Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia Yoppie Rikson. Read More..
Tim Wanadri Masih dalam Pemulihan
TIMIKA, KOMPAS.com — Tim pendakian Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia dari perhimpunan pencinta alam Wanadri masih dalam tahap pemulihan setelah didera kelelahan ketika batal meneruskan perjalanan ke puncak Carstensz Pyramid atau Ndugu-Ndugu, Papua, pada Selasa lalu. Tim mengurungkan niat ke puncak akibat cuaca buruk.Koordinator Staf Ahli Tim Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia Muhamad Gunawan di Timika, Papua, Kamis (15/4/2010) petang, mengatakan, setelah pemulihan kondisi, tim inti pendakian Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia akan kembali berupaya mendaki ke puncak dengan ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut ini pada Sabtu (17/4/2010) lusa.
"Selain cuaca buruk, mereka kelelahan karena proses aklimatisasi belum sepenuhnya tuntas," kata Gunawan yang akrab disapa Ogun itu seperti dilaporkan wartawan Kompas Harry Susilo yang tergabung dalam tim pendakian ini.
Tim inti pendakian tersebut beranggotakan Ardeshir Yaftebbi, Iwan Irawan, Martin Rimbawan, Fajri Al Luthfi, Nurhuda, dan Gina Afriani. Pencapaian puncak Carstensz di Pegunungan Jayawijaya ini merupakan bagian dari ekspedisi tujuh puncak tertinggi di dunia yang dilakukan Wanadri pada rentang waktu 2010-2012.
Pada Selasa lalu, tim telah mencapai Kandang Babi atau sekitar 100 meter dari puncak Carstensz. Namun, cuaca buruk berupa angin kencang disertai hujan es menghalangi langkah mereka sehingga mereka memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanan. "Daripada nanti kemalaman di jalan, mereka kemudian memutuskan untuk kembali ke basecamp Lembah Danau-Danau," ujar Ogun.
Selain pada Sabtu mendatang, tim inti pendakian rencananya juga akan mendaki menuju puncak Carstensz pada 22 April atau bertepatan dengan Hari Bumi Sedunia. Pendakian ke puncak ini juga menjadi ajang latihan mereka sebelum meneruskan misi ke enam puncak lainnya. Read More..
Sunday, December 26, 2010
Tim Bravo Bertolak ke Timika
JAKARTA, KOMPAS.com — Tim Bravo pendakian puncak Ndugu-Ndugu atau Carstensz Pyramid bertolak ke Timika, Papua, pada Kamis (15/4/2010) pukul 06.00. Tim 7 Summit Expedition ini rencananya akan mulai mendaki pada Sabtu mendatang dan berupaya mencapai puncak pada 22 April.Wartawan Kompas Harry Susilo yang bergabung dalam tim pendakian ini melaporkan, Pendakian Carstensz Pyramid dengan ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut merupakan bagian dari ekspedisi tujuh puncak tertinggi dunia yang dilakukan tim dari Wanadri ini. Tim Bravo menyusul tim Alpha yang sudah lebih dulu berangkat pada 6 April lalu.
Tim Bravo ini beranggotakan Endriartono Sutarto, Iwan Abdulrahman, Erry Riyana Hardjapamekas, Yoppie Rikson, Bambang Hamid, Muhammad Gunawan, Remi Tjahari, Iwan Bungsu, Tri Novi, Setyo Rawadi, dan Eric Martialis.
Ketua Harian Tim 7 Summit Expedition Yoppie Rikson mengatakan, setelah tim tiba di Timika sore ini, mereka akan melanjutkan perjalanan ke Tembagapura pada Jumat dan meneruskannya ke Lembah Danau-Danau pada Sabtu pagi. "Dari Tembagapura ke Lembah Danau-Danau ditempuh sekitar 3 jam," ucapnya. Read More..
Cartenz Pyramid Jadi Pembuka Tim Wanadri
BANDUNG, KOMPAS.com - Puncak Cartenz Pyramid atau Puncak Ndugu-Ndugu akan menjadi pembuka Tim Wanadri Pendakian Tujuh Atap Dunia 2010. Tujuh atap dunia adalah Cartenz Pyramid (Puncak Ndugu-Ndugu), Kilimanjaro, Elbruz, Vinson Massif, Mckinley, Aconcagua, dan Everest.Ketua Tim Pendakian Yoppy Rikson di Bandung, Sabtu (27/3/2010) mengatakan Cartenz Pyramid (Ndugu-Ndugu) dipilih sebagai pembuka karena berada di Papua Indonesia. Diharapkan, hal itu menjadi semangat bagi para pendaki.
"Cartenz, Kilimanjaro, Elbrus, dan Vinson Massif target tahun 2010. Sisanya tahun 2011," kata Yoppy. Read More..








